Pertama-tama
aku menasihatimu dan diriku agar bertakwa kpd Allah Jalla Jalaluhu, kemudian
apa saja yg menjadi bagian/cabang dari ketakwaan kpd Allah Tabaarakan wa Ta’ala
seperti :
[1].
Hendaklah kamu menuntut ilmu semata-mata ha krn ikhlas kpd Allah Jalla
Jalaluhu, dgn tdk menginginkan dibalik itu balasan dan ucapan terima kasih.
Tidak pula menginginkan agar menjadi pemimpin di majelis-majelis ilmu. Tujuan
menuntut ilmu hanyalah untuk mencapai derajat yg Allah Jalla Jalaluhu telah
khususkan bagi para ulama. Dalam firmanNya.
“Arti
: … Allah akan meninggikan orang-orang yg beriman di antara kamu dan
orang-orang yg diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat …?” [Al-Mujaadilah :
11]
[2].
Menjauhi perkara-perkara yg dpt menggelincirkanmu, yg sebagian ” Thalibul Ilmi”
(para penuntut ilmu) telah terperosok dan terjatuh padanya.
Diantara
perkara-perkara itu :
[a]
Mereka amat cepat terkuasai oleh sifat ujub (kagum pada diri sendiri) dan
terpedaya, sehingga ingin menaiki kepala mereka sendiri.
[b]
Mengeluarkan fatwa untuk diri dan untuk orang lain sesuai dgn apa yg tampak menurut
pandangannya, tanpa meminta bantuan (dari pendpt-pendpt) para ulama Salaf
pendahulu ummat ini, yg telah meninggalkan “harta warisan” berupa ilmu yg
menerangi dan menyinari dunia keilmuan Islam. (Dengan warisan) itu jika
dijadikan sebagai alat bantu dalam upaya penyelesaian berbagai musibah/bencana
yg bertumpuk sepanjang perjalanan zaman. Sebagai mana kita telah ikut
menjalani/merasakannya, dimana sepanjang zaman itu dalam kondisi yg sangat
gelap gulita.
Meminta
bantuan dalam berpendapat dgn berpedoman pada perkataan dan pendpt Salaf, akan
sangat membantu kita untuk menghilangkan berbagai kegelapan dan mengembalikan
kita kpd sumber Islam yg murni, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah yg shahihah. Sesuatu
yg tdk tertutup bagi kalian bahwasan aku hidup di suatu zaman yg mana kualami
pada dua perkara yg kontradiksi dan bertolak belakang, yaitu pada zaman dimana
kaum muslimin, baik para syaikh maupun para penuntut ilmu, kaum awam ataupun yg
memiliki ilmu, hidup dalam jurang taqlid, bukan saja pada madzhab, bahkan lebih
dari itu bertaqlid pada nenek moyg mereka.
Sedangkan
kami dalam upaya menghentikan sikap tersebut, mengajak manusia kpd al-Qur’an
dan as-Sunnah. Demikian juga yg terjadi di berbagai negeri Islam. Ada beberapa
orang tertentu yg mengupayakan seperti apa yg kami upayakan, sehingga kamipun
hidup bagaikan “Ghuraba” (orang-orang asing) yg telah digambarkan oleh
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam beberapa hadits beliau yg telah
dimaklumi, seperti :
“Arti
: Sesungguh awal mula Islam itu sebagai suatu yg asing/aneh, dan akan kembali
asing sebagaimana permulaannya, maka berbahagialah bagi orang-orang yg asing”
Dalam
sebagian riwayat, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Arti
: Mereka (al-Ghurabaa) ialah orang-orang shaleh yg jumlah sedikit sekeliling
orang banyak, yg mendurhakai mereka lebih banyak dari yg mentaati mereka”
[Hadits Riwayat Ahmad]
Dalam
riwayat yg lain beliau bersabda :
“Arti
: Mereka orang-orang yg memperbaiki apa yg telah di rusak oleh manusia dari
Sunnah-Sunnahku sepeninggalku”.
Aku
katakan : “Kami telah alami zaman itu, lalu kami mulai membangun sebuah
pengaruh yg baik bagi dakwah yg di lakukan oleh mereka para ghuraba, dgn tujuan
mengadakan perbaikan ditengah barisan para pemuda mukmin. Sehingga kami jumpai
bahwa para pemuda beristiqomah dalam kesungguhan di berbagai negeri muslim,
giat dalam berpegang teguh pada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam tatkala mengetahui keshahihannya”.
Akan
tetapi kegembiraan kami terhadap kebangkitan yg kami rasakan pada tahun-tahun
terakhir tdk berlangsung lama. Kita telah dikejutkan dgn terjadi sikap
“berbalik”, dan perubahan yg dahsyat pada diri pemuda-pemuda itu, di sebagian
negeri[1]. Sikap tersebut, hampir saja memusnahkan pengaruh dan buah yg baik
sebagai hasil kebangkitan ini, apa penyebab ? Di sinilah letak sebuah pelajaran
penting, penyebab ialah krn mereka tertimpa oleh perasaan ujub (membanggakan
diri) dan terperdaya oleh kejelasan bahwa mereka berada di atas ilmu yg shahih.
Perasaan tersebut bukan saja diseputar para pemuda muslim yg terlantar, bahkan
terhadap para ulama. Perasaan itu muncul tatkala merasa bahwa mereka memilki
keunggulan dgn lahir kebangkitan ini, atas para ulama, ahli ilmu dan para
syaikh yg bertebaran diberbagai belahan dunia Islam.
Sebagaimana
merekapun tdk mensyukuri nikmat Allah Jalla Jalaluhu yg telah memberikan Taufik
dan Petunjuk kpd mereka untuk mengenal ilmu yg benar beserta adab-adabnya.
Mereka tertipu oleh diri mereka sendiri dan mengira sesungguh mereka telah
berada pada status kedudukan dan posisi tertentu. Merekapun
mulai mengeluarkan fatwa-fatwa yg tdk matang alias mentah, tdk berdiri diatas
sebuah pemahaman yg bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Maka tampaklah
fatwa-fatwa itu dari pendpt-pendpt yg tdk matang, lalu mereka mengira bahwasa
itulah ilmu yg terambil dari al-Qur’an dan as-Sunnah, maka mereka pun tersesat
dgn pendpt-pendpt itu, dan juga menyesatkan banyak orang.
Suatu
hal yg tdk sama bagi kalian, akibat dari itu semua muncullah sekelompok orang
(”suatu jama’ah”) dibeberapa negeri Islam yg secara lantang mengkafirkan setiap
jama’ah-jama’ah muslimin dgn filsafat-filsafat yg tdk dpt diungkapkan secara
mendalam pada kesempatan yg secepat ini, apalagi tujuan kami pada kesempatan
ini ha untuk menasehati dan mengingatkan para penuntut ilmu dan para du’at
(da’i).
Oleh
sebab itu saya menasehati saudara-saudara kami ahli sunnah dan ahli hadits yg
berada di setiap negeri muslim, agar bersabar dalam menuntut ilmu, hendaklah
tdk terperdaya oleh apa yg telah mereka capai berupa ilmu yg dimilikinya. Pada
hakekat mereka hanyalah mengikuti jalan, dan tdk ha bersandar pada
pemahaman-pemahaman murni mereka atau apa yg mereka sebut dgn “ijtihad mereka”.
Saya
banyak mendengar pula dari saudara-saudara kami, mereka mengucapkan kalimat
itu, dgn sangat mudah dan gampang tanpa memikirkan akibat : “Saya berijtihad”.
Atau “Saya berpendpt begini” atau “Saya tdk berpendpt begitu”, dan ketika anda
berta kpd mereka ; Kamu berijtihad berdasarkan pada apa, sehingga pendptmu
begini dan begitu ? Apakah kamu bersandar pada pemahaman al-Qur’an dan sunnah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta ijma’ (kesepakatan) para ulama
dari kalangan Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yg lain ?
Ataukah pendptmu ini ha hawa nafsu dan pemahaman yg pendek dalam menganalisa
dan beristidlal (pengambilan dalil)?. Inilah realitanya, berpendpt berdasarkan
hawa nafsu, pemahaman yg kerdil dalam menganalisa dan beristidlal. Ini semua
dalam keyakinanku disebabkan krn perasaan ujub, kagum pada diri sendiri dan terperdaya. Oleh
sebab itu saya jumpai di dunia Islam sebuah fenomena (gejala) yg sangat aneh,
tampak pada sebagian karya-karya tulis.
Fenomena
tersebut tampak dimana seorang yg tadi sebagai musuh hadits, menjadi seorang
penulis dalam ilmu hadits supaya dikatakan bahwa dia memiliki karya dalam ilmu
hadits. Padahal jika anda kembali melihat tulisan dalam ilmu yg mulia ini, anda
akan jumpai sekedar kumpulan nukilan-nukilan dari sini dan dari sana, lalu
jadilah sebuah karya tersebut. Nah apakah faktor pendorong (dalam melakukan hal
ini) wahai anak muda ? Faktor pendorong ialah krn ingin tampak dan muncul di
permukaan. Maka benarlah orang yg berkata.
“Perasaan
cinta/senang untuk tampil akan mematahkan punggung (akan berkaibat buruk)”
Sekali
lagi saya menasehati saudara-saudaraku para penuntut ilmu, agar menjauhi segala
perangai yg tdk Islami, seperti perasaan terperdaya oleh apa yg telah diberikan
kpd mereka berupa ilmu, dan janganlah terkalahkan oleh perasaan ujub terhadap
diri sendiri. Sebagai
penutup nasehat ini hendaklah mereka menasehati manusia dgn cara yg terbaik,
menghindar dari penggunaan cara-cara kaku dan keras di dalam berdakwah, krn
kami berkeyakinan bahwasa Allah Jalla Jalaluhu ketika berfirman.
“Arti
: Serulah manusia kejalan Rabbmu dgn hikmah dan peringatan yg baik, dan
debatlah mereka dgn cara yg terbaik …” [An-Nahl : 125]
Bahwa
sesungguh Allah Jalla Jalaluhu tdklah mengatakan kecuali dgn kebenaran (al-haq)
itu, terasa berat oleh jiwa manusia, oleh sebab itu ia cenderung menyombongkan
diri untuk menerimannya, kecuali mereka yg dikehendaki oleh Allah. Maka dari
itu, jika di padukan antara berat kebenaran pada jiwa manusia plus cara dakwah
yg keras lagi kaku, ini berarti menjadikan manusia semakin jauh dari panggilan
dakwah, sedangkan kalian telah mengetahui sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam.
“Arti
: Bahwasa di antara kalian ada orang-orang yg menjauhkan (manusia dari agama) ;
beliau mengucapkan tiga kali”.
[Nasehat
ini dinukil dari kitab “Hayat al-Albani” halaman : 452-455]
[Disalin
dari Majalah : as-Salafiyah, edisi ke 5/Th 1420-1421. hal 41-48, dgn judul asli
“Hukmu Fiqhil Waqi’ wa Ahammiyyatuhu”. Ashalah, diterjemahkan oleh Mubarak BM
Bamuallim LC dalam Buku “Biografi Syaikh Al-Albani Mujaddid dan Ahli Hadits
Abad ini” hal. 127-150 Terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi’i.]
No comments:
Post a Comment